Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Sunday, July 30, 2017

Berakhir Pekan di Tanjung Aan


Pantai Tanjung Aan Lombok

Seorang sahabat mengajak saya berkunjung ke tempat wisata pantai Tanjung Aan di Lombok Tengah. Ia adalah seorang dosen di salah satu lembaga pendidikan di Mataram. Ia hendak mengisi perkuliahan English for Tourism, lalu mengajak sejumlah mahasiswa berkunjung ke tempat wisata demi menemukan native speaker.

Saya yang kebetulan lama tak menjajal tempat wisata di Lombok, segera menyetujui ajakannya. Sahabat itu seakan mengerti bahwa akhir-akhir ini, saya juga tengah giat belajar bahasa Inggris. Sepertinya ia paham bahwa saya sedang memerlukan teman untuk berdialog.

***

Ibu penjual kain itu segera berlari mendekati rombongan, sesaat setelah sampai di pantai Tanjung Aan. “Handmade pak, handmade bu” katanya sayup-sayup. Ia antusias menyapa pengunjung sembari menawarkan dagangannya. Ibu itu adalah satu dari sekian banyak penjual kain tenun di Tanjung Aan. Saya menduga, usianya sekitar 50 tahun. Kepada saya ia bertutur bahwa telah menjual kain selama tak kurang dari 7 tahun. “Untungnya tak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Itupun kalau ada yang beli”. Ungkapnya.

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai Tanjung Aan Lombok

Bukan sekali saya berbicang lama dengan para pedagang di tempat wisata. Beberapa waktu lalu, saya juga berjumpa dengan gadis kecil di pantai Kuta yang rela menjual gelang demi membayar uang sekolah. Gadis itu membuat saya iri sebab dalam usia belia, ia telah mahir berbahasa Inggris.

Bagi saya, berkunjung ke lokasi wisata bukan sekadar melihat obyek, memotret dan pulang. Saya menyenangi pertempaun-pertemuan dengan manusia-manusia di lokasi wisata, merasakan denyut jantung mereka yang hidup di pesisir, menikmati keceriaan warga setempat yang seringkali terheran-heran mengapa ada orang yang siap menghabiskan jutaan rupiah demi mendatangi kampung halamannya.

Sekian banyak pantai menawan di Lombok memang selalu dikerubungi para penjual kain. Dengan setia mereka menjajaki dagangan kepada siapa saja yang datang berkunjung. Di Tanjung Aan, mereka serupa tuan rumah yang antusias menyambut tamu dengan aneka souvenir khas Lombok.

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai Tanjung Aan merupakan satu diantara sekian banyak hamparan pantai indah yang membentang di Lombok. Tak sampai satu jam dari BIL (Bandara International Lombok) untuk sampai ke tempat ini. Dari sini, kita bisa leluasa menikmati sederet objek wisata lain yang hanya berjarak sepelemparan batu seperti Bukit Merese, Pantai Seger, Mawun, Mawi, Kuta, Selong Belanak dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan Seger, pantai yang juga pernah dijadikan lokasi suting film ini menyajikan pemandangan indah dengan suasana ombak yang teduh. Tak ada satupun peselancar yang datang ke tempat ini. Yang nampak hanyalah ratusan turis asing yang berjemur di sepanjang garis pantai. Sambil berkeliling, saya menikmati sekelebat pemandangan di depan mata.

Saya menyadari bahwa Lombok memang menyimpan pesona hebat. Soal keindahan, pantai-pantai di sini memiliki hamparan pasir sehalus tepung. Di Tanjung Aan, saya bahkan bertemu dengan bule yang menyebut Lombok layaknya kepingan surga.

Di Tanjung Aan, saya menikmati akhir pekan yang menyenangkan. Matahari sedang terik, tapi saya masih bisa menyaksikan pantai luas yang begitu banyak peminat. Di pantai ini, saya merenungi banyak hal. Saya merenungi keindahan Lombok, ikhtiar pemerintah demi menjadikan Lombok sebagai kiblat wisata dunia, serta interaksi yang menyenangkan dengan beberapa warga.

Mataram, 31 Juli 2017

Wednesday, June 28, 2017

Mengais Sejarah di Makam Keramat


Makam Kerongkeng

Berkunjung ke makam mereka yang dikeramatkan selalu memberikan sensasi tersendiri. Saya merasakan ada energi kuat yang pancarannya masih terasa, menggerakkan kaki untuk berziarah, serta menjaga hati agar tetap hangat, meskipun nyala api yang menyatukan kita telah menjadi kisah yang dituturkan dari mulut ke mulut.

Kemarin, saya berkunjung ke makam Haji Abdul Karim yang terletak di dusun Karongkeng, Tarano, Kabupaten Sumbawa. Oleh warga setempat, makam ini sering disebut sebagai makam keramat Haji Kari. Letaknya berada di atas area perbukitan. Pemerintah telah menetapkan makam ini sebagai cagar budaya islam yang teregistrasi secara nasional.

Dari beberapa sumber, saya telah membaca sejarah tentang makam Haji Kari. Dikatakan beliau adalah seorang pengamal islam yang disegani. Sepulang dari tanah suci, Haji Kari kemudian menyebarkan agama islam di Sumbawa pada awal abad ke 16 Masehi. Jauh di bagian timur Sumbawa, beliau membumikan islam sebagai jalan hidup orang banyak.

Apapun itu, makam Haji Kari adalah sekeping sejarah dan warisan akulturasi budaya yang sangat bernilai. Melalui makam ini, kita menyaksikan satu fase dimana islam menjadi sukma yang harumnya terus semerbak hingga sekarang. Sayang, makam ini sepi pengunjung. Tak banyak generasi muda yang mengetahui keberadaannya. Tak banyak orang yang datang berziarah lalu mendoakan sang penyiar agama. Bahkan, makam ini tidak dijadikan objek wisata sejarah oleh pemerintah setempat.

Meski demikian, saya tetap bersukur sebab makam Haji Kari telah dipagari sehingga membuatnya sedikit terawat dan menjaganya dari banyak manusia aneh yang senang menjadikan makam keramat sebagai tempat meminta-minta.

Makam Kerongkeng

Persis disamping makam Haji Kari, juga terdapat makam lain yang juga dilindungi. Makam itu dibangun dengan nisan dari batu alam, bertuliskan huruf arab melayu dan ukiran ornament bunga dengan panjang dua kaki. Seorang ahli Filologi Indonesia yang mengajar di Universitas Leiden Belanda, Doktor Suryadi, telah menerjemahkan tulisan pada makam tersebut.

Terjemahan nisan sebagai berikut :

Bermula inilah ingatan dari Paduka Muhammad Idris Syah ibni almarhum Muhammad Aly pada tahun sanat 1271 kepada hari bulan Dzulhijjah pada hari Jumat waktu jam 2 ke 8 siang Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fuanhu.

Tak begitu banyak sumber mengenai siapa Muhammad Idris Syah. Apakah tokoh ini juga ikut membantu Haji Kari dalam menyebarkan islam? Entahlah. Yang jelas, terjemahan itu adalah penemuan yang sangat berharga, serta menjadi pintu masuk bagi sejarawan demi melengkapi serpihan sejarah islam di bumi Sumbawa.

Sumbawa, 28 Juni 2017

Friday, June 2, 2017

Di Lombok, Banyak Aktivitas Menarik Saat Ramadhan


Aktivitas Panahan di Islamic Center Lombok

Lima tahun sudah saya menjalani puasa di bumi seribu masjid, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bagi sebagian orang, menjalani puasa di perantauan memang tak selalu menggembirakan. Namun, saya selalu bersyukur bisa kuliah dan menghabiskan banyak waktu di sini. Pulau Serambi Madinah selalu membuat saya betah. Tak terkecuali ketika saya harus menjalani hari-hari di bulan suci.

Saya tinggal di satu kompleks yang banyak dihuni para mahasiswa dari Sumbawa. Namun, saya tak selalu bisa berkomunikasi intens dengan mereka. Saya justru banyak berinteraksi dengan sahabat dari berbagai komunitas sosial di Lombok. Kami membuat group WA, lalu bertukar banyak informasi di sana.

Suatu ketika, seorang teman mengajak saya mengunjungi Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center. Kami berniat menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa di sana. Seperti yang telah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya, Islamic Center merupakan salah satu masjid termegah di Lombok. Berdiri di atas lahan seluas 7,5 hektare, masjid ini mengadopsi gaya arsitektur bangunan islam Timur Tengah yang maju dan unggul. Tak heran jika Islamic Center menjadi kebanggan masyarakat Lombok.

Islamic Center merupakan simbol peradaban islam di Lombok. Selain menjadi tempat kajian dan pendalaman ilmu-ilmu agama, masjid ini juga menjadi pusat kebudayaan, wisata religi, dan pasar seni. Sehingga, momentum ramadhan selalu menjadikan masjid yang berlokasi tepat di jantung Kota Mataram itu, dibanjiri banyak orang.

Sore itu, saya menyaksikan begitu banyak aktivitas islami yang berlangsung di Islamic Center. Di dekat pintu masuk, saya melihat bangunan kecil dari kayu. Bagian atas bangunan itu bertuliskan Media Center. Tempat ini dihiasi dengan pernak pernik dan sejumlah photo booth.

Pada dinding bangunannya, dipajang sejumlah foto dari berbagai objek wisata yang ada di Lombok Sumbawa. Persis di depan gambar-gambar itu, berdiri tegak sebuah replika piala Lombok yang diboyong dari ajang World Halal Tourism Award. Saya menyukai desainnya yang sederhana dan kreatif. Setiap pengunjung juga bebas berfoto di sana.

Tempat ini selalu ramai di malam hari. Banyak jamaah masjid yang datang, lalu berfoto bersama keluarga dan pasangannya. Mereka juga diperkenankan mengambil buku-buku pedoman wisata yang disediakan secara gratis.

Media Center GenPI Lombok Sumbawa

Media Center GenPI Lombok Sumbawa

Belakangan saya ketahui, bahwa tempat itu sengaja dibuat oleh Generasi Pesona Indonesia, GenPI Lombok Sumbawa, sebagai sarana kampanye dan wadah promosi wisata. GenPI merupakan volunteer pariwisata yang dibentuk oleh Kementrian Pariwisata untuk mempromosikan kegiatan pariwisata Indonesia. Komunitas ini berfokus pada promosi wisata melalui teknologi digital dengan mengoptimalkan penggunaan blog dan media sosial.

GenPI telah tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia termasuk NTB. Di Islamic Center Lombok, mereka membuka stand bagi para pengunjung, membagikan buku gratis, bertukar informasi seputar pariwisata, hingga menggelar sejumlah event menarik selama ramadhan.

Di sudut lain masjid, saya melihat kerumunan pengunjung yang tengah latihan memanah. Saya tak menyangka jika di masjid ini juga dibangun sarana olahraga panahan bagi para pendatang. Banyak warga yang antusias bahkan rela mengantre. Mereka hendak mencoba melontarkan anak panah dari busurnya.

Menurut beberapa literatur islam, panahan sendiri memang merupakan salah satu olahraga yang digemari Rasulullah. Kini, olahraga itu secara rutin diadakan di Islamic Center selama ramadhan. Sungguh aktivitas yang jarang ditemukan di tempat peribadatan.

Tak jauh dari situ, berbagai aktivitas bazaar juga digelar. Mereka yang tertarik dengan ragam kuliner, buku, dan pakaian bisa leluasa menuntaskan dahaga di tempat ini. Di sana, saya menyaksikan ibu-ibu tengah melirik-lirik pakaian, sesekali dia menanyakan harga kepada si penjual. Ada bapak-bapak yang sibuk memilih koleksi peci, ada pula yang membeli takjil untuk berbuka puasa.

Aktivitas Panahan di Area Masjid

Aktivitas Panahan di Area Masjid

Yang tak kalah menarik adalah, pameran replika benda-benda peninggalan Rasulullah dan Sahabat di lantai dasar masjid. Saya melihat beberapa atribut dan perlengkapan perang seperti busur panah, pedang, tongkat, dan sandal yang pernah digunakan Rasul dan Sahabat beribu-beribu tahun lalu.

Para pengunjung tak sekedar bisa melihat, tapi juga disuguhkan dengan penjabaran seputar informasi serta sejarah dari masing-masing benda yang ada. Memang tak terlalu detail, tapi setidaknya, saya mendapat referensi berharga tentang sejarah islam. Replika ini mengantarkan saya menuju lorong waktu ke masa silam.

Saya jadi membayangkan betapa semua benda ini begitu berjasa bagi umat muslim. Saya membayangkan betapa di tangan Khalid bin Walid, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan pedang itu telah banyak menembus jantung para pemimpin bengis dan meruntuhkan berbagai imperium Romawi. Saya membatin betapa panah itu selalu melekat di bahu Rasulullah tatkala di medan pertempuran.

Menjadi pengalaman yang sangat berharga, ketika semua benda yang digunakan oleh para punggawa islam, serta mereka yang menciptakan peradaban dunia, tersaji di depan mata. Meski sebatas replika, saya tetap bersyukur bisa melihatnya.

Sepintas Sejarah Islam

Replika Pedang Rasulullah

Replika Pedang Umar ibn Khattab

Replika Pedang Usman ibn Affan

Replika Sandal Rasulullah

Replika Panah Rasulullah

Nampaknya, tahun ini pemerintah NTB sudah mempersiapkan segalanya. Mereka sangat serius untuk menjadikan NTB sebagai kiblat pariwisata dunia, khususnya wisata berbasis syariah. Boleh jadi, ramadhan adalah momentun yang tepat untuk menggembar gemborkan semua aset daerah. Terlebih saat semua aset itu disajikan dalam kemasan islami.

Mereka menjadikan Islamic Center sebagai wahana bermain, pusat perbelanjaan, taman edukasi, hingga museum sejarah yang memancing banyak orang untuk berdatangan. Pemerintah juga melibatkan generasi muda dalam agenda besar ini. Saya terkesan, sebab pemerintah kita bisa membaca trend. Mereka paham bahwa pariwisata hanya akan ‘berbunyi’ kalau terus-menerus dikicaukan netizen dan disebarkan secara masif.

Saat para generasi muda bersatu, mereka serupa air bah yang bisa menjebol satu tembok kukuh dalam penyajian informasi melalui berbagai kanal blog dan media sosial. Merekrut mereka dalam satu barisan adalah langkah strategis untuk menguasai masa depan.

Saat ini, banyak daerah di Indonesia yang tengah berbenah menata sektor kepariwisataan. Saya masih ingat betapa geliat pemerintah Sulawesi Tenggara dalam mengembangkan pulau Bokori. Tak kurang dari miliyaran APBD Provinsi telah mereka kucurkan untuk membenah pulau tersebut. Provinsi itu hendak mengejar mimpi sebagai pemilik banyak destinasi wisata laut kelas dunia. Mereka kemudian menata Bokori sebagai salah satu objek wisata.

Lombok sendiri patut berbangga karena memiliki sederet pulau indah yang layak untuk dikunjungi seperti Gili Sudak, Gili Meno, Gili Nanggu, Gili Air, dan masih banyak lagi. Semuanya serupa kepingan surga yang dilepas ke bumi oleh Yang Maha Indah, dalam satu skenario proses alam. Pulau-pulau ini tak perlu lagi ditata atau di-branding ulang seperti Bokori, pemerintah hanya perlu menjaga kelestariannya, lalu secara terus-menerus mempromosikan pesona pulau seribu masjid kepada dunia.

Indahnya Ramadhan di Bumi Seribu Masjid

Sore itu, hampir dua jam saya menelusuri Islamic Center. Saya beruntung sebab tempat ini hanya berjarak sepeminuman teh dari tempat tinggal saya di Mataram. Kesan saya, masjid ini sangat layak untuk dikunjungi. Tak sekedar megah, masjid yang menjadi tempat diselenggarakannya Musabaqah Tilawatil Qur'an tingkat nasional tahun lalu itu, nyatanya mampu menjadi rumah bagi segala segmen usia dalam satu atmosfer kegiatan positif di bulan suci.

Setidaknya, di sini saya melihat harapan tentang pesona bumi seribu masjid yang akan terus semerbak. Lombok akan menjadi aquarium dunia yang selalu membabar epos manis tentang keindahan, keislaman, serta kedinamisan sosial.

Saya membayangkan bahwa tak lama lagi, kita akan tampil menjadi yang terbaik. Selangkah lagi, kita akan berlari cepat mengungguli yang lain. Ah, semoga segera terwujud.

NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog #RamadhanDiLombok 2017 yang diselenggarakan REPUBLIKA & Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat.

Mataram, 02 Juni 2017

Tuesday, March 21, 2017

Lombok Island, Paradise of Tourist


Presean, Adat Masyarakat Sasak (Foto:Google)

Lombok such a big map and always interesting to explore. If Bali island famous with thousand temple, but Lombok island famous with thousand mosque. Because of the developing in tourism sector, lombok selected as International Halal tourism.

Lombok is paradise of tourist. There are so many beautiful places that we can visit. If you come to Lombok, don't histate to visiting. I write some beautiful places for reference.

Tiu Kelep and Sendang Gile Waterfall's


Tiu Kelep Waterfall Lombok

Sendang Gile with the distance about 60 km from capital city of West Nusa Tenggara, takes about 2-3 hour with car to go this amazing waterfall. This waterfall is located at 600 m above sea level and has two level waterfall.

The legend said that the waterfall's name was taken from the villagers that found this waterfall when they hunted a crazy lion the attacked them. People also believe, if you wash your face there, you will look younger one year than your real age.

Sendang Gile Waterfall Lombok

From the entering gate in Senaru village, visitors have to walk through 315 stairs step which is takes about 20 minutes. All the effort to the waterfall is worth, since its amazing panorama, clear water and beautiful waterfall. Just a little bit further there is a second waterfall named "Tiu Kelep" the view in here even more astonishing.

Selong Belanak Beach


Selong Belanak Beach Lombok

Beautiful long stretch of beach with fine while sand surrounded by scenic hills. Ideal for relaxing, swimming, some entry level surfing, and for experiencing mesmerizing sunsets.

Food and other essential are all available her from warung style to fine dining. Located of Selong Belanak Beach is Kuta, Central Lombok, West Nusa Tenggara. We need about 2-3 hours to arrived in this location.

Kuta Beach Lombok


Kuta Beach Lombok

Kuta Beach Lombok

In the sourthen part of central Lombok there are row of beach stretching. One of them Kute Beach. Kuta Beach has white sand exotic. Shaped like grains of papper that isvery difficult to be found in othwr coastal tourist areas.

Kuta Beach and its surrounding areas in the plan of development of integrated tourism area that will become a destinatioj similar to Bali, Nusa Dua area.

Pergasingan Hill


Pergasingan Hill Lombok

Pergasingan is one of distination tourism in east Lombok. Many people's come from different's village to visited this hill.

To get to the top of Pergasingan Hill, we have to hike for about 2-3 hours depending on the physical condition and wheater when hiking. The green color dominates the surrounding view as the vantage point getting higher, and the paddy field of Sembalun Village will look evenore beautiful from the top.

Mawi Surf Lombok


Mawi Surf Lombok

Reef break with fairly consistent surf which attracts advenced surfers. Be sure to bring your own surf equipment as there is no rental on location.

Mawi beach is one best pleace to surf, there are so many tourism come to this place for enjoyed the grateful wave. To arrived in this place we are needed 2-3 hour from Mataram, about 1 hour From Central Lombok and just about 20 minutes from Kuta beach which there were not so far from this beach.

Of course the places that i was wrote just a little bit places in Lombok, there are so many another places that i can't mention one by one. Hopefully , this article that i share can useful for all of you. Have a nice read, have a great holiday in Lombok.

Mataram, 21 Maret 2017

Tuesday, February 28, 2017

Gemerincing Ombak Pantai Mawi


Pantai Mawi (Foto: Wisata Lombok)

Bersama para sahabat, baru-baru ini saya berkunjung ke kawasan wisata Kuta Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Niat kami sederhana yaitu melepaskan penat dihari libur, sembari bergumul dalam suasana pantai yang menenangkan pikiran.

Kuta Mandalika adalah tetesan surga bagi para peselancar. Tempat ini dikenal memiliki objek wisata pantai yang memukau. Banyak yang berubah semenjak pemerintah menetapkan Kuta Mandalika sebagai kawasan ekonomi khusus. Di sepanjang perjalanan, saya melihat proyek-proyek besar tengah digarap sebagai sarana penunjang dunia kepariwisataan.

Pemerintah Nusa Tenggara Barat sangat serius mengembangkan Mandalika. Terhitung milyaran APBD telah dikucurkan untuk menyulap kawasan ini menjadi kawasan berbasis pariwisata berkelas dunia. Di banyak media regional, saya juga sempat membaca bahwa di Mandalika akan dibangun sirkuit berskala internasional. Dalam hati saya berharap, semoga saja pemberitaan itu bukan hoax.

***

Terik matahari tajam menyengat kulit ketika kami sampai di pantai Mawi. Jalanan terjal dan berlubang hingga membuat badan serasa remuk hilang seketika bersama desiran ombak yang lalu lalang. Batu-batu besar yang menjulang dibibir pantai ini adalah spot terbaik untuk mengabadikan moment berharga dalam bidikan kamera.

Itulah kesan saya saat pertama kali menginjakan kaki ditempat ini. Tiga tahun lalu, saya pernah mengunjungi Kuta, namun tak sempat berkeliling hingga pantai Mawi. Barulah sekarang dahaga itu terbayar tuntas.

Pantai Mawi
Pantai Mawi
Pantai Mawi

Mawi adalah taman bermain yang nyaman bagi siapa saja. Keindahannya yang tak terbantahkan membuat banyak turis asing mengunjungi tempat ini. Mereka tak sekedar datang untuk berjemur, tetapi juga berharap bisa menaklukkan ombak pantai dengan papan selancar.

Begitupula dengan kami. Lama bergelut dengan rutinitas perkuliahan, membuat kepala kami serupa memory card yang telah terisi penuh. Kami butuh penyegaran, memori itu harus di upgrade agar file-file baru bisa ditampung kembali.

Saya masih duduk diatas pruga kecil sambil menyeruput kopi saat menyaksikan penampilan akrobatik turis-turis itu dalam gulungan ombak. Sesekali mereka beristirahat melepas lelah, namun berapa saat kemudian, papan selancar kembali dijinjing menuju laut. Mereka tampaknya menyukai ombak Mawi yang ganas.

Tak mau kalah dengan mereka, sayapun mulai beranjak. Perlahan-lahan saya berjalan mencari spot terbaik untuk dipotret. Sekelebat pemandangan yang tersaji di Mawi sungguh memancing orkestra kekaguman. Gemerincing ombak di pantai ini, kian manja mengelus telinga.

Tanpa disadari dari sudut yang lain, seorang sahabat mengajak saya untuk foto bersama. Saya hanya mengangguk pelan menerima ajakannya sembari dalam hati berucap, "Betapa Lombok memang ditakdirkan sebagai pulau yang menawan."

Mataram, 28 Februari 2017

Monday, February 20, 2017

Kisah Muallaf Tionghoa di Balik Masjid Cina Pakuan


Masjid Cina Pakuan, Narmada

Saya termasuk orang yang beruntung sebab bisa kuliah dan tinggal di Lombok. Bagi saya, pulau Seribu Masjid ini ibarat belantara luas yang selalu menarik untuk dijelajahi. Setiap orang tentu bisa menikmati perjalanan panjang di Lombok, lalu dengan antusias mulai menuliskannya sebagai bahan referensi bagi orang lain.

Baru-baru ini, saya mengunjungi sebuah masjid yang terletak di Jurang Malang, Desa Pakuan Narmada, Lombok Barat. Belakangan, masjid ini mulai ramai dikunjungi karena bentuk bangunannya yang khas dan unik. Penasaran dengan beberapa postingan sahabat di media sosial, sayapun berkunjung.


***

Sore itu, langit sedang bersahabat. Tempat ini biasanya laris manis dari guyuran hujan. Setelah membayar retribusi masuk sebesar dua ribu rupiah, sayapun segera berkeliling. Layaknya dibanyak tempat wisata lain, komplek masjid ini juga ramai oleh para pedagang. Mereka antusias menawarkan jajanan kepada para pengunjung yang berdatangan.

Masjid Ridwan ini dibangun di atas dataran tinggi Pakuan. Para pengunjung harus melewati beberapa anak tangga untuk sampai dihalaman utama masjid. Yang membuat saya betah adalah pemandangan desa yang asri diselimuti udara sejuk karena berada disekitar daerah perbukitan.

Masjid Cina Pakuan

Serupa masjid Ceng Hoo di Surabaya, masjid Ridwan memiliki kontur bangunan khas Tionghoa yang menawan dan elegan. Perpaduan warna merah dan kuning keemasan khas Cina, tampak mendominasi bangunan masjid ini.

Yang lebih menakjubkan lagi adalah masjid berukuran kecil ini dibangun oleh pasangan mualaf beretnis Tionghoa Cina, Ang Thian Kok dan Tee Mai Fung, dengan nama islam Muhammad Maliki dan Siti Maryam yang telah lama menetap di Mataram.

Saya mendapatkan referensi tentang pembangunan masjid ini melalui selebaran yang terpampang di bagian dalam masjid. Saya tertegun saat membaca sosok pedagang berdarah Cina itu. Prinspinya tentang “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain” diwujudkan dengan cara membangun sebuah masjid yang tidak saja bisa menjadi tempat peribadatan bagi banyak orang, tetapi juga menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat Pakuan.

Ikhtiar Maliki tak sampai disitu, di Sangiang, Desa Langko Lingsar, Lombok Barat ia juga telah membangun masjid lain dengan kontur bangunan yang sama. Masjid itu ia namai masjid Abu Baqar Shiddiq. Ah, semoga di lain waktu saya bisa kesana.

Sesaat membaca sosok Maliki membuat saya termenung. Dia bukanlah muslim fanatik, ia hanyalah seorang mualaf yang menyisihkan sedikit rejeki dari bisnisnya demi membangun sebuah masjid. Saya jadi membayangkan, betapa banyaknya umat beragama di pelosok negeri ini yang hanya melihat agama sekedar bacaan saat beribadah, sehingga lupa membumikannya dalam ladang kehidupan.

Entah kenapa, kita kerap alpa untuk menjadikan agama sebagai pemberi rahmat bagi sekitar, lupa menjadikannya pupuk yang menggemburkan kehidupan, tidak menjadikannya sebagai embun untuk menuntaskan dahaga orang lain. Kita lupa mengasihi orang-orang disekitar kita tanpa memandang apapun kelompok, ras, serta agama mereka. Di luar sana, kita justru sering melihat betapa banyaknya orang yang selalu berbedat dan mempermasalahkan keyakinan.

Kita selalu mempermasalahkan ideologi, agama orang lain, berapa kali orang itu beribadah, tanpa membahas kepasitas dan kemampuan seseorang. Kita lebih sibuk membuktikan orang lain adalah kafir dan akan masuk neraka, tanpa menjadikan diri kita sebagai berkah bagi sekeliling. Kita juga tak membahas bagaimana langkah kecil yang dapat kita lakukan demi menggapai mimpi bangsa, yakin menciptakan suatu keadaan yang adil, rukun, damai dan tentram baik secara material maupun spritual.

Di saat kita masih berdebat tentang ideologi dan keyakinan, orang lain telah berusaha melesat maju dengan segala yang dimilikinya. Maliki mengakui bahwa aktifitasnya membangun masjid, tak pernah mempengaruhi keadaan perekonomian keluarganya. Bahkan dia berjanji akan tetap membangun masjid di tempat-tempat lain di Lombok.


Hari ini, saya menyerap embun kebijaksanaan dari mualaf Tionghoa itu. Saya merasakan semilir angin membawa ketenangan batin saat membaca kisah Maliki di masjid Ridwan Pakuan. Dia membuktikan bahwa tujuan utama dalam beragama adalah menciptakan ketenangan, ketentraman dan kedamaian sebagaimana udara sejuk khas perbukitan yang saya rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini.

Maliki tak pernah mempermasalahkan siapapun yang berkunjung ke masjidnya. Pintu masjid Ridwan selalu terbuka untuk siapa saja. Bagi wisatawan muslim, masjid ini adalah tempat peribadatan yang nyaman dan mendamaikan hati. Akan tetapi bagi para saudara yang berkeyakinan lain, masjid ini tentu bisa menjadi objek menarik untuk mengabadikan moment berharga bersama pasangan dan keluarga.

“Jangan kebanyakan melamun, nanti kesambet ” kata seorang gadis yang ikut menemani saya ketempat ini. “Masjid ini unik, rugi jika tidak foto bersama” ajaknya.


Mataram, 20 Februari 2017

Saturday, February 18, 2017

Islam di Balik Dalam Loka


Istana Dalam Loka Sumbawa

Setiap berada di Sumbawa, saya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Istana Dalam Loka. Istana ini diklaim sebagai istana kayu terbesar yang pernah ada. Istana ini adalah satu dari sekian banyak bangunan bersejarah di Sumbawa yang mengandung nilai filosofi yang sangat mendalam.

Istana Dalam Loka merupakan Istana peninggalan Kesultanan Sumbawa yang hingga kini masih berdiri kokoh di jantung Kota Sumbawa Besar. Menurut beberapa literatur sejarah, istana ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin III yang merupakan sultan ke 19 Kesultanan Sumbawa di era Dinasti Dewa Dalam Bawa pada tahun 1885.

Dulunya, istana yang juga menjadi simbol peradaban adat dan budaya masyarakat Sumbawa ini digunakan sebagai tempat para Sultan Sumbawa dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Dalam Loka adalah kebanggan bagi setiap masyarakat Sumbawa. Dalam yang berarti istana dan Loka yang berarti rakyat, adalah prakarsa dan bentuk kesetiaan rakyat kepada sultannya. Bangunan ini dibangun dengan rasa suka cita terhadap pemimpin yang bijak dalam menjalankan pemerintahan.

Istana Dalam Loka Sumbawa

Didalam komplek istana juga terdapat masjid agung Al-Huda sebagai pusat peribadatan. Kehadiran masjid, semakin mempertegas nafas islam pada Dalam Loka. Setiap mengunjungi tempat ini, saya selalu terkenang betapa islam dan kebudayaan tak pernah bisa dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Sumbawa. Hal ini tercermin dalam setiap sudut bangunan Dalam Loka. 99 jumlah tiang penyanggah adalah simbol Asmaul Husna didalam islam. Begitu juga pada 13 anak tangga yang melambangkan rukun sholat.

Semangat pembangunan Dalam Loka adalah semangat persatuan islam. Bangunan ini selalu ramai dikunjungi setiap akhir pekan. Banyak pengunjung yang datang sekedar untuk berfoto dan mengisi waktu luang bersama keluarga bahkan pasangannya. Sayang sekali setiap saya berkunjung, istana ini selalu tertutup rapat. Padahal ingin sekali rasanya menjelajahi setiap sudut istana dan melihat satu persatu peninggalan bersejarah didalamnya.

Meski hanya datang seorang diri, saya tidak terlalu iri dengan pengunjung lain yang terlihat asik berfoto bersama pasangannya. Aahh,, semoga dilain waktu saya bisa kembali ketempat ini bersama seseorang.

Sumbawa, 18 Februari 2017

Wednesday, February 8, 2017

Islamic Center Lombok, Wisata Religi di Tengah Kota


Islamic Center Lombok

Gadis kecil itu bernama Anisa. Saya bertemu dengannya seusasi sholat di masjid besar yang berjarak hanya sepelemparan batu dari tempat tinggal saya di Mataram. Dia adalah satu diantara banyak siswa yang medatangi Islamic Center untuk melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Meski banyak rombongan lain yang datang, perhatian saya hanya tertuju pada rombongannya.

Yang membuat saya kagum adalah mereka masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Didampingi para gurunya, mereka antusias melakukan ibadah sepulang sekolah di masjid ini. Saya mengamati kelakuan siswa-siswa itu beberapa jenak. Setelahnya, saya kembali memotret sekelebat kemewahan yang nampak didepan saya.

***

Masjid ini digadang-gadang sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara. Islamic Center berada tepat dijantung Kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Selain menjadi pusat kajian ilmu-ilmu agama, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat kebudayaan, wisata religi, hingga pasar seni. Kita bisa memantau seisi Lombok dari atas menara masjid ini.

Saya tidak heran mengapa banyak orang menyebut Lombok sebagai Serambi Madinah. Selain pulau ini disesaki masjid, Lombok juga masih sangat memperhatikan segala aktifitas berbau keagamaan. Semuanya melebur dalam satu bangunan besar bernama Islamic Center.

Meski kuliah di Lombok, jarang sekali saya berkunjung ke Islamic Center. Padahal hampir setiap hari saya melintasi wilayah ini. Saya juga terbiasa melihat turis asing dihalaman masjid. Kadang mereka singgah untuk berfoto, dan membeli sovenir yang dijejaki para pedagang. Begitu juga pada malam harinya, kelap kelip cahaya Islamic Center adalah daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melintasi tempat ini.

Islamic Center Lombok

Islamic Center Lombok

Pemerintah melalui kebijakannya membangun satu bangunan sebagai tempat interaksi muslim, yang lalu menjelma menjadi ikon baru dan banyak dikunjungi wisatawan. Saya sangat terkesan dengan masjid ini. Bangunannya yang besar dan megah mencerminkan keperkasaan Islam dizaman Khalifah.

Berbekal kamera smartphone, saya mengelilingi masjid ini lalu mencari apa saja yang bisa diabadikan. Saat menaiki tangga, saya melihat Bedug berurukan besar dan bertulisakan "Persatuan Muslim Tionghoa Indonesia PITI-NTB" di sana. Saya menduga bahwa Bedug tersebut sengaja disumbangkan oleh Persatuan Muslim Tionghoa sebagai cindera mata lalu ditempatkan disini.

Setelah itu, saya kembali memasuki bagian utama masjid. Di sana saya melihat lampu-lampu indah bergelantungan menyapa setiap jama'ah. Luasnya hampir setara lapangan bola hingga mampu menampung banyak orang. Selanjutnya saya berjalan menuju puncak menara. Saya penasaran dengan penorama Lombok dari ketinggian. Di bagian ini, energi saya cukup terkuras, sebab untuk sampai dipuncak kita mesti melewati banyak anak tangga.

Diatas menara islamic Center yang menjulang, saya memandang jauh seisi Lombok. Dari sini saya bebas menjelajah, bebas menerewang, serta bebas meluapkan rasa syukur atas segalanya. Saya menyarankan jika kamu singgah di Lombok dalam waktu yang tidak lama, sempatkanlah mampir ketempat ini.

Mataram, 08 Februari 2017

Friday, December 23, 2016

Sensasi Sepat Resto Apung Bungin

Resto Apung Bungin

Sumbawa tak selalu identik dengan Festival Moyo. Festival yang namanya diangkat dari salah satu pulau indah di Sumbawa itu seakan telah menggambarkan Sumbawa secara keseluruhan. Sumbawa juga tak melulu berbicara tentang Kenawa. Sebuah pulau kecil yang keindahannya telah semerbak ke segala penjuru ini memang telah ramai dikunjungi dalam beberapa waktu terakhir.

Nun jauh di sebelah barat Sumbawa, ada tempat unik yang patut dijajaki. Namanya Respo Apung Bungin. Sebuah resto yang sengaja dibangun di atas laut itu berlokasi di Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Sumbawa. Tempat ini serupa maghnet baru yang memikat setiap pasang kaki untuk berdatangan. Di setiap akhir pekan, tempat ini selalu ramai dikunjungi orang-orang. Penasaran, sayapun datang berkunjung.

Resto ini menyajikan aneka kuliner laut yang menggugah lidah. Kita bisa memesannya sesuai selera. Tempat ini hanya berjarak sepelemparan batu dari darmaga Bungin. Orang-orang harus menaiki perahu untuk sampai kesana. Kemaren saya mengunjungi tempat ini bersama para sahabat. Kami sama-sama di buat penasaran oleh sensasi makan di atas laut.

Resto ini adalah satu-satunya rumah makan di atas laut yang ada di Sumbawa. Ketika pertama kali mendaratkan kaki di Bungin, saya di buat terkejut dengan fenomena kambing pemakan kertas. Tak hanya kertas, bahkan kambing-kambing disana dengan lahap memakan sejumlah bekal yang dibawa pengunjung.

Satu-satunya alasan yang dapat saya simpulkan mengapa kambing-kambing di Bungin berbeda dengan kambing pada umumnya adalah tidak tersedianya rumput sebagai makanan utama mereka. Sehingga lambat laun, kambing-kambing disini harus terbiasa dengan makanan lain.

Penasaran dengan kambing pemakan kertas, teman sayapun mencoba menyodorkan sejumlah uang pada salah satu kambing yang datang mendekati kami ketika menunggu perahu di darmaga. Benar saja, tak sampai satu menit, uang-uang kertas itu sudah habis termakan.

Ini adalah pengalaman pertama menuju Bungin. Pulau yang juga menjadi tempat kelahiran Sri Ningsih dalam Novel "Tentang Kamu" karang Tere Liye ini ternyata menyimpan sejuta mutiara. Saking mengagumi Bungin, Tere Liye menyarankan setiap penggemarnya mengunjungi pulau ini.

Resto Apung Bungin

Sesampai di resto, saya lansung memesan makanan. Dari kejauhan, saya melihat sahabat lain tengah asik berfoto. Hari itu kami tak sendiri, beberapa pengunjung lain juga tengah menikmati makan siang mereka disini. Ada ibu-ibu yang datang bersama keluarganya, ada juga seorang pemuda yang datang bersama kekasihnya.

Setelah itu, perlahan saya mulai mengitari setiap sudut resto seluas lapangan futsal ini. Dengan langkah agak pelan karena takut tergelincir, saya menghampiri kolam-kolam ikan disekitaran resto. Tak hanya saya, para pengunjung lain juga nampak antusias berkeliling. Setiap kolam dihiasi dengan jenis ikan yang berbeda-beda. Di suatu kolam, saya juga melihat hiu yang sengaja dipamerkan kepada pengunjung.

Resto ini menyimpan banyak daya. Selain suasana nyaman yang ditawarkan, setiap menu yang disajikan juga terbilang murah. Hari itu, saya memesan Sepat sebagai wejangan utama. Saya tak pernah bosan dengan makanan khas Sumbawa yang satu ini. Menikmati sepat dengan semilir angin laut yang menyejukkan pikiran adalah moment yang tak mudah didapatkan di Mataram.

Resto Apung Bungin

Berbeda dengan kampung halaman saya, Alas memang banyak menyimpan kawasan wisata. Selain resto apung, di Alas juga terdapat air terjun Agal yang menjulang. Andai punya banyak waktu, saya selalu berharap untuk mengunjungi setiap kawasan wisata yang ada disini satu persatu.

Satu hal yang memancing orkestra getir dalam hati saya adalah sepanjang jalan menuju pulau Bungin. Jalanan itu nampak rusak dan menyulitkan pengendara. Saya memastikan bahwa air hujan akan membuat kondisi jalan itu serupa kolam lumpur yang susah untuk dilewati.

Saya membayangkan suatu saat daerah kita akan unggul di sektor pariwisata. Sebab sederet objek wisata yang ada di Sumbawa juga tidak kalah menarik dengan yang ada ditempat lain. Hanya saja, pemerintah kita harus memiliki kebijakan yang mampu menopang dunia kepariwisataan. Saya berfikir suasana hati para wisatawan. Dengan kondisi infrastruktur jalan yang tidak memadai, para pengunjung akan berfikir dua kali untuk berdatangan.

Mataram, 23 Desember 2016

Tuesday, October 18, 2016

Syair Lagenda di Pantai Seger



Pantai Seger

Lombok ibarat sebentang peta kecil yang selalu menarik untuk dijelajahi, setiap orang bisa menjelalajah lalu menambahkan informasi pada peta tersebut. Tak sekedar informasi tentang semesta yang indah, yang sekarang begitu banyak memikat turis asing untuk berdatangan. Tapi juga cerita tentang keberagaman budaya yang masih alami dengan lapis-lapis makna di dalamnya.

Cerita tentang eloknya Senggi, dan merdunya suara ombak di Gili Trawangan yang telah masyhur hingga daratan Eropa, membuat pulau dengan mayoritas muslim ini gandrung di hinggapi wisatawan mancanegara. Bau nyale, perang topat, hingga presean adalah cerita lain dari pulau seribu masjid yang selalu mengundang decak kagum bagi siapapun yang menyaksikannya. Di mata saya, Lombok adalah surga bagi siapa saja yang senang berpetualang.

Sebagai seorang mahasiswa yang hidup di perantauan,saya cukup beruntung sebab jarak ke berbagai tempat wisata di Lombok hanya sepeminuman teh. Malangnya, berbagai urusan akademik justru membuat saya jarang mendapat waktu luang untuk mengunjunginya satu persatu. Kadang untuk bisa berpetualang di hari libur, saya harus menyelsaikan semua pekerjaan kampus pada hari-hari sebelumnya.

Belakangan saya mendapat kesempatan untuk melunasi dahaga wisata saya. Bersama beberapa orang sahabat, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi pantai Seger. Sebuah kawasan wisata daerah yang telah ramai dikunjungi wisatawan. Pantai Seger terletak di wilayah Kuta, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai kesana. Persis seperti namanya, pantai ini memang memberikan hal yang berbeda, tak hanya pemandangan khas pantai yang memukau, cerita dibalik keganasan ombak pantai ini adalah sejumput fakta yang selalu dinikmati oleh para peselancar.

Di kawasan pantai ini juga terdapat patung Putri Mandalika yang merupakan cikal-bakal dari lahirnya festival budaya Bau Nyale. Menurut masyarakat sekitar, putri Mandalika atau putri Nyale dulunya merupakan seorang putri raja yang cantik jelita. Putri ini memilih untuk menyeburkan dirinya ke laut demi menolak lamaran beberapa raja yang ingin mempersuting dirinya kala itu. Ketika para masyarakat mencari sang putri, muncul beberapa hewan kecil yang menyerupai cacing laut. Masyarakat Lombok mempercayai bahwa hewan tersebut adalah jelmaan sang putri. Hingga kini, budaya bau Nyale atau mencari Nyale tetap dilakukan.

Sejenak memandangi patung, membuat saya larut dalam sejarah. Festival yang digelar rutin di Lombok itu ternyata memiliki nilai penting didalamnya. Saya menemukan keping-keping pengetahuan melalui hal-hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Kini pemerintah NTB telah mematenkan festival tersebut demi kepetingan masyarakat banyak. Saatnya bergerak menuju pantai. Di balik bukit, saya mendengar suara ombak yang bergemuruh. Desirnya seakan telah siap menyambut kehadiran kami sore itu.


Pantai Seger

Pantai Seger

Di sana kami bertemu dengan berbagai wisatawan asing. Mereka tengah berusaha menaklukan keganasan ombak Seger dengan papan selancarnya. Sambil duduk di sebuah warung yang letaknya persis di depan pantai, saya mengamati gerak mereka. Para kulit putih itu nampaknya sangat menikmati suasana. Gemuruh ombak seakan membuat mereka tertantang. Saya kemudian menghampiri mereka lalu melontarkan beberapa buah pertayaan bak seorang wartawan.

What do you think of lombok? (Saya memulai)
Lombok was perpect, i found everything here..!!! (kata Daniel, seorang wisatawan asal Australia)

Lombok adalah rumah yang nyaman bagi mereka yang berdatangan dari luar. Baik muslim ataupun non muslim, masyarakat selalu menjadi teman yang akrab. Eksistensi NTB dalam pariwisata halal nusantara adalah angin segar bagi para pelancong muslim di seantero dunia. Pemerintah telah menyediakan pelayanan yang memadai bagi mereka yang  ingin berlama-lama di Lombok. Hotel, musholla, hingga kuliner halal dapat dijumpai di setiap kawasan wisata disini.

"Imron, ayo cepat foto kami disini," kata Katra, seorang sahabat dari Malang, yang juga kecipratan sihir pariwisata Lombok. Dia ingin mengabadikan momen berharga itu, kemudian menunjukannya kepada sahabat lain di Malang setelah ia pulang. Fose-fose mereka terekam abadi di Smartphone saya. Seger memang memukau, tebing-tebing yang menjulang di depannya seakan mengawasi pantai ini dari tangan-tangan jahil.

Di beberapa kawasan wisata di Indonesia, kita kerap melihat fenomena yang tidak elok. Ada banyak cerita tentang mereka yang berkunjung lalu meninggalkan jejak di kawasan tersebut berupa sampah, coret-coretan dan sebagainya.

Melalui layar kecil televisi, saya melihat sebuah kawasan wisata air terjun yang kondisinya memprihantikan. Di sana terlihat begitu banyak coretan pada batu-batu besar pada area wisata tersebut. Entah tangan mana yang melakukannya. Ketika suatu kawasan wisata telah dipenuhi dengan sampah dan berbagai hal yang berpotensi merusak keindahan objek dari kawasan tersebut, maka lambat laun turis-turis profesional akan menjauhinya.

Di Lombok, saya melihat hal yang berbeda. Tingkat kesadaran masyarakat sudah sedemikian tinggi. Beberapa kali mengunjungi kawasan pariwisata, saya tidak pernah menjumpai hal-hal seperti yang disebutkan di atas. Alih-alih meninggalkan sampah, para masyarakat sekitar kawasan wisata justru membuat tempat sampah khusus yang di letakan pada obek wisata tersebut. Mereka tidak ingin kenyaman pengunjung terganggu oleh hal-hal yang tidak di ingingkan. Bagi mereka, para wisatawan yang berdatangan serupa tamu yang harus dilayani dengan baik.

Di tengah keindahan Seger saat senja di ufuk sana, di atas pasir putih itu saya kembali menemukan embun untuk melepas dahaga wisata saya. Setiap pengunjung yang saya temui, selalu memancarkan decak kagum pada kemurnian pantai itu. Mereka seakan menemukan dunia baru yang belum terjamah. Saya melihat pemilik warung tengah sibuk menyiapkan kopi bagi pengunjung yang baru berdatangan.

Di sela gemuruh ombak yang ganas itu, saya melihat gelak tawa para turis diatas papan selancarnya. Di antara batu-batu besar yang menjulang, saya melihat sepasang kekasih tengah asik berfose untuk mengabadikan kisah mereka. Begitu juga ketika berada di jembatan panjang dari kayu yang jaraknya dekat dengan patung sang putri tadi.

Barangkali itulah sebabnya mengapa pada abad modern ini, NTB begitu diperhitungkan dalam hal pariwisata. NTB telah bertransformasi sebagai gerbong yang menampung banyak wisatawan. Mereka telah berhasil ditarik dengan maghnet yang disebut "Keindahan." Kini NTB serupa taman bermain anak-anak yang datang dari seluruh penjuru dunia dengan latar belakang dan adat istiadat yang berbeda. Baik muslim atau non muslim, NTB telah siap menjadi tuan rumah yang baik bagi siapa saja.

Berbagai penganugrahan pada kompetisi pariwisata halal nasional tentu tidak serta merta timbul dengan sendirinya, saya membayangkan ada kesetaraan visi antara pemerintah dan masyarakat dalam memaknai pariwisata. Pemerintah telah memberi ruang kepada para cendikia muda untuk lebih memproduksi konten-konten positif seputar pariwisata NTB melalui ranah maya.

Kini NTB tengah bersiap untuk menghadapi iklim berikutnya, mereka tengah menatap ajang yang lebih bergengsi di tingkat internasional, dan selama pemerintah berjalan selaras dengan masyarakat, bukan tidak mungkin NTB akan keluar sebagai yang terbaik.

"Imron, kenapa melamun. Cepat kesini, kita foto bersama," kata Oky dari kejauhan, mengajak saya untuk berfoto.

Seger adalah surga kecil bagi mereka yang lebih terbiasa dengan suasana pantai. Di balik gemuruh ombak pantai Seger, ada decak kagum yang tak terbantahkan. Jauh di atas bukitnya yang menjulang, ada banyak keraguan yang telah terjawab. Di balik semua itu, ada cerita getir sang putri raja yang cantik jelita. Lagenda itu kemudian di abadikan dengan sebuah patung yang sampai sekarang masih berdiri tegak. Patung yang seolah siap menceritakan semuanya kepada para pengunjung.

Ketika matahari telah kelelahan dibalik awan, dan cahaya merahnya mengurapi kami, saya berfikir bahwa semuanya harus diakhiri. Kami harus segera pulang, kami harus melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Sejenak berada disini membuat saya larut dalam keindahan.

Saya bermimpi suatu hari nanti, saya akan kembali bersama keluarga kecil saya tempat ini. Kembali menatap Seger dengan cerita baru. Saya telah menyerap banyak kisah manis dari Seger, tentu saja saya akan menceritakan kepada mereka dengan sedikit pengharapan agar berita tentang keindahan pantai ini segera tersebar.

Mataram, 18 Oktober 2016

Thursday, September 29, 2016

Udara Dingin Bukit Pergasingan


Bukit Pergasingan

Berwisata mungkin sudah menjadi kebutuhan manusia pada abad modern ini, berakhir pekan bersama keluarga, teman sekantor nampaknya sudah menjadi rutinitas. Pengapnya udara kantor serta deru kehidupan kota yang kian padat, harus kembali dinetralkan dengan pemandangan-pemandangan indah yang seakan memberi aura positif pada pikiran. Tak pelak jika beberapa tempat wisata seringkali ramai dikunjungi ketika akhir pekan.

Saya adalah mahasiswa yang tak punya banyak waktu untuk sekedar berwisata, beberapa intimidasi halus dari keluarga memaksa saya untuk senantiasa fokus pada kegiatan berbau akademik, sehingga jarang sekali saya mendapat kesempatan untuk melepas penat bersama teman-teman kampus. Akhirnya pada suatu hari saya mencoba berbaur dengan beberapa MAPALA kampus. Saya kenal betul aktivitas mereka, ditengok dari namanya saja Mahasiswa Pencinta Alam, pastilah mereka-mereka itu adalah sekelompok mahasiswa yang suka berpetualang dan menjelajah pikir saya. Tak saya abaikan lagi, inilah kesempatan yang baik untuk melepas dahaga dalam berwisata. Saya hanya tinggal menunggu jadwal keberangkatan mereka dan saya akan segera bergabung.

"Selalu terdapat peluang dari setiap masalah", itulah penggalan kalimat Tao The Cing yang selalu saya ingat, seminggu setelahnya kabar baik itu tersiar dari salah seorang teman, nama saya masuk dalam daftar rombongan perjalanan ke Bukit Pergasingan kali ini. Sebuah bukit yang menjulang tinggi, berada tepat dihadapan gunung Rinjani, butuh waktu 4 jam dari mataram untuk sampai kesana, dan lebih kurang 5-6 jam untuk mendaki bukit setinggi 1800 MDPL itu. Ketinggiannya setara dengan pos ke-3 pegununungan Rinjani.

Rombongan segera berangkat pada sabtu pagi, kami berencana untuk menghabiskan malam minggu diatas bukit, merasakan dinginnya udara khas pegunungan yang menyengat kulit. Bukit pergasingan memang telah lama dibuka untuk wisatawan, tapi baru ramai akhir-akhir ini, bukit itu berada diwilayah desa Sembalun lawang, kecamatan Sambalia, jauh sebelah timur kota Mataram.


Pergasingan

Pergasingan

Pergasingan

Kita baru menghabiskan setengah perjalanan, ketika kumandang adzan ashar menjilat telinga. Rombongan baru sampai dipuncak ketika magrib sudah dihimpit matahari. Saya memilih beristirahat sejenak sambil mengurut betis akibat sensasi perjalanan yang tak seperti biasanya. Beberapa teman lain tengah sibuk menyiapkan tenda sebagai tempat peristirahatan yang nyaman digunung. Tak terasa sudah gelap, angin gunung bertiup merayu kulit yang terbalut jaket tebal, saya dan teman-teman mengumpulkan beberapa kayu bakar untuk dijadikan penghangat. Seketika mulut saya mengeluarkan asap ketika tengah asik berbicara sambil melingkari api unggun. Disini begitu dingin, menyelinap masuk, memenuhi ruang, menusuk daging dan tulang, untung saja saya telah mempersiapkan segalanya.

Saya bersama tiga teman lain, memilih untuk begadang semalaman, sebagian wanita tengah tertidur pulas didalam tenda masing-masing. Oki, mahasiswa Fakultas Ekonomi Akutansi asal Sumbawa mengawali pembicaraan kita malam itu. Dia bercerita tentang Soe Hoek Gie, seorang idealis yang mati muda dan senang menyendiri di gunung. Dia memang lelaki yang senang menyendiri, berusaha melihat segala sesuatu dari tepian, dia tak ingin menjadi Massa, banyak sajak yang ia tulis ditengah udara gunung yang tidak bersahabat dengan kulit. Sajak-sajaknya kemudian menjadi sangat pamiliar dikalangan mahasiswa yang senang menikmati keindahan alam.

Gie adalah penyendiri yang istimewa, kemanapun dia melangkah, hanya sajak yang menjadi lawan bicaranya. Saya memang berbeda dengan Gie, saya menjajaki alam bersama teman-teman kampus, tapi antara saya dan Gie, kita sama-sama diikat oleh tali yang kuat, yaitu keberanian untuk memilih. Dia memilih sendiri untuk menelusuri gunung-gemunung, lembah-lembah dan sungai-sungai deras. Saya justru memilih menjalaninya bersama teman-teman seperjuangan, saya menyadari bahwa terdapat tali temali yang kuat dan selalu bisa menghubungkan saya dengan berbagai orang lain diluar sana melalui rasa kegaduhan dan pergolakan batin yang sama.


Pergasingan

Pergasingan

Pergasingan

Pergasingan

Pergasingan

Kegaduhan karena melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Gie memang gaduh dengan segala bentuk kehidupan kota yang serba kecurangan kala itu, dia tidak melihat sesuatu yang harmonis terjadi dikota, hingga akhirnya dia memilih untuk melangkah sendiri menyusuri alam, mencari kedamaian ditempat-tempat hening. Berbeda dengannya, setelah menyelsaikan study, tentu saya harus kembali kepada keluarga saya, kampung halaman yang telah menanti pengabdian saya. Barangkali ada rupa-rupa masalah yang harus dihadapi, ada banyak tantangan yang harus dilewati, ada batu besar yang siap menghadang laju siapa saja, disitu kerap muncul rasa pesimisme tinggi, takut, dan khawatir untuk terus melangkah maju.

Tapi keberanian dalam hidup kita selalu menjadi cahaya terang yang akan memandu perjalanan kemanapun kita pergi, Lao Tzu seorang filsuf cina yang luas pernah berkata bahwa "perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah". Kecintaan pada hidup adalah embun yang selalu memberikan harapan untuk terus bergerak, apapun resiko yang harus dijalani.

Bro.!! Jangan kebanyakan melamun, ayo gabung, kita foto bersama, sayang sunrise ini dilewatkan begitu saja. Kata seorang teman mengajak saya untuk mengabadikan moment itu.

Mataram, 29 September 2016