Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Saturday, August 12, 2017

Kutipan Pramoedya Ananta Toer


Pramoedya Ananta Toer

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.

Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai.

Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. 

A mother knows what her child's gone through, even if she didn't see it herself.

Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.

Menulis adalah sebuah keberanian.

Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain.

Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.

Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini.

Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.

Mataram, 13 Agustus 2017

Thursday, August 10, 2017

Segelas Kopi yang Menyatukan


Kopi Hitam

Selalu saja ada hal yang mengharukan dalam hidup. Hari ini, saya dihadiahi gelas tapperware oleh seseorang. Ia membawa satu gelas plastik berisi kopi lalu menyuruh saya meminumnya. Ia sangat paham kalau saya menyukai kopi.

Dipikirnya, dengan gelas plastik itu, saya bisa leluasa menikmati kopi kapan pun dan dimana pun sesuka hati. Gelas itu semacam tumblr yang dirancang khusus untuk mengisi minuman saat bepergian. Meski demikian, ia tetap menyarankan saya agar lebih kengutamakan air putih. “Kopi itu selingannya saja. Terlalu banyak minum kopi tidak baik untuk kesehatan.” Katanya.

Entah kenapa, dari dulu saya memang senang menikmati kopi. Saya suka menjajal seduhan kopi dari berbagai daerah. Pernah saya mencicipi kopi Aceh, Toraja, Sumbawa dan tak lupa kopi bideng khas Lombok yang banyak saya temukan di sini. Semuanya sama-sama menyajikan satu rasa yang khas dan nikmat.

Bagi saya, kopi itu bukan sekedar minuman penunda kantuk. Tapi lebih dari itu, kopi bisa menjadi penanda dan ikon kebudayaan. Di balik aroma kopi, terselip sebuah kisah, romansa, tragedi, ataupun sejarah tentang bagaimana manusia berusaha menyajikan sesuatu yang rasanya nikmat di lidah. Melalui pesona budaya, manusia menyebarkan rasa nikmat itu ke seantero bumi, bersintesa dengan lokalitas, lalu menjadi ikon globalisasi.

Kini, di hadapan saya tersaji segelas kopi. Saya membayangkan dirinya pergi ke tempat perbelanjaan umum lalu mencari-cari sesuatu hingga ia menemukan gelas plastik itu. Saya melihat cermin perhatian yang luar biasanya padanya. Gambaran tentang ibu saya seketika menyusup dibenak.

Ah, bahagia itu sederhana rupanya. Bahagia itu bisa dijumpai dimana saja. Kali ini, saya menemukannya dalam segelas kopi. Sambil sesekali tersenyum, saya lansung mereguknya.

Syurrruuppppp...syyrruupppppp!

Mataram, 10 Agustus 2017

Wednesday, July 26, 2017

Sembilan Mental yang Harus Dimiliki Seorang Blogger


Ilustrasi

Di satu toko buku, saya melihat buku yang berisi tentang kiat-kiat sukses menjadi seorang blogger. Saya tiba-tiba saja tertarik untuk membacanya. Dalam waktu singkat, saya menyelsaikan beberapa kisah blogger sukses dunia. Mereka yang menggapai kecemerlangan karir, bermula dari aktvitias menjadi seorang blogger.

Saya akhirnya memahami betapa dibalik cerita-cerita sukses para blogger dunia seperti Darren Rowse, Yaro Starak, John Cow, Lisa Stone dan lain-lain, tersimpan sikap mental dan mindset tertentu yang menyertai langkah mereka. Benar kata pesepak bola legendaris Pele bahwa “Keberhasilan bukanlah suatu kebetulan. Untuk mencapai keberhasilan, dibutuhkan kerja keras, ketekunan, latihan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang paling penting, cintailah apa yang kamu kerjakan”.

Buku itu membuat saya tersentak di beberapa bagian. Saya menyadari bahwa ada hal-hal yang teramat penting untuk dilakukan sebagai seorang blogger. Sesuatu yang kerap terpikirkan, namun tak selalu bisa dilakukan secara rutin, hingga mengakar kuat dalam kebiasaan. Apa saja itu? Nah, marilah kita buat daftar sederhana. Saya hanya menuliskan beberapa kiat yang telah dibagikan oleh banyak ahli dalam bidang ini.

Pertama, berani bermimpi besar. Segala sesuatu tentunya dimulai dari impian. Mimpi besar akan menggerakkan kita demi menggapai sesuatu yang kita inginkan. Kita bisa melihat sebegitu kuatnya ideologi American Dream yang membuat obsesi anak-anak Amerika hendak menggapai kemakmuran. Fenomena ini menggambarkan bahwa impian yang ditanam sejak kecil akan menjadi kompas bagi seseorang untuk bergerak ke arah yang diidam-idamkannya.

Kedua, cintailah aktivitas blogging. Hanya cintalah yang membuat kita berani melakukan hal-hal yang menurut orang lain boleh jadi tidak masuk akal. Menulis tanpa dibayar, berbagi ilmu dan tips berharga secara gratis, membalas komentar dan menjawab pertanyaan pembaca blog tanpa pamrih. Tanpa cinta, aktivitas blogging hanya akan bertahan dalam sekejap.

Mencintai aktivitas blogging bisa juga berarti memilih topik yang benar-benar kita kuasai dan sesuai untuk blog. Jangan pernah tergoda untuk menulis sesuatu yang tak benar-benar kita kuasai, sebab bisa menjadi bomerang saat pembaca mulai mempertanyakannya. Jika kebetulan hobi kita adalah travelling, menulis pengalaman, tips dan trik berwisata aman tentunya akan lebih mudah ketimbang menulis tema lain.

Ketiga, lakukan yang terbaik. Buatlah satu komitmen untuk melakukan dan memberikan yang terbaik. Ketika menulis artikel, menulislah sebaik mungkin. Berikan manfaat sebesar-besarnya kepada pembaca blog. Buatlah mereka membaca dengan alasan blog kita memuat satu kepingan informasi yang mereka butuhkan.

Ketika membalas komentar, balaslah dengan niat memberikan bantuan sehingga menunjukkan bahwa kita peduli dengan masalah mereka. Meskipun kita belum mendapatkan finansial apapun dari blog, tetaplah berkomitmen untuk melakukan yang terbaik.

Keempat, tentukan tujuan yang jelas. Kita bisa memulai dari menanyakan diri sendiri tentang apa yang memotivasi kita menekuni aktivitas blogging. Uang, hobi atau ketenaran? Jika uang, berapa yang ingin kita dapatkan? Lima juta, sepuluh juta? Kapan kita akan mendapatkan penghasilan itu? Bulan depan, tahun depan? Apapun tujuannya, usahakanlah menuliskanya di selembar kertas. Tentukan goal target untuk blog kita. Tentukan pula tenggat waktu untuk mencapainnya.

Menuliskan tujuan dari aktivitas blogging, akan mempermudah kita dalam mendapatkan sesuatu. Sebab dengan cara ini, kita dituntut untuk melakukan sesuatu secara terstruktur dan sistematis. Kita juga dengan mudah melakukan evaluasi terhadap setiap pencapaian. Dalam teori manajemen, langkah ini dikenal dengan istilah POAC yakni Planning, Organizing, Actuating dan Controlling.

Kelima, teruslah belajar. Dunia bergerak dengan cepat. Apa yang terjadi di timur dengan seketika memancing respon dari banyak orang yang tinggal di barat. Saya mengamini kalimat Thomas Friedman dalam buku “The World is Flat” bahwa dunia telah menjadi datar. Apa yang terjadi di suatu tempat bisa menimbulkan kekhawatiran dan keresahan di tempat lain. Batasan kian mengabur, informasi datang dari segala arah.

Setiap hari selalu ada hal baru, ide baru, trend baru, penemuan baru. Jika kita terlalu cepat berpuas diri, lalu malas mempelajari sesuatu yang baru, jangan terkejut jika dalam hitungan hari kita akan tertinggal. Saya teringat ungkapan seorang dosen di awal-awal kuliah dulu bahwa “Mereka yang mengasai informasi, adalah mereka yang menguasai dunia”. Setinggi apapun kesuksesan yang telah di raih, sebesar apapun penghasilan dari blog yang kita dapatkan, merasa laparlah terhadap segala informasi baru dan jangan pernah berhenti belajar.

Keenam, bergaul dengan orang-orang yang tepat. Tak ada salahnya berteman dengan siapapun. Namun jika kita benar-benar ingin mewujudkan sebuah impian, mulailah menemukan orang-orang yang mau mendukung setiap kemajuan kita. Pasalnya jika tak cermat, kita akan mendapati mereka yang selalu memberi atensi negatif terhadap apa yang kita lakukan.

Semenjak aktif menulis blog, saya mulai rutin mengikuti berbagai tulisan dari banyak maestro yang telah lebih dulu mengenal dunia aksara. Beberapa diantaranya bahkan berteman dengan saya di media sosial. Saya mengamati bagaimana mereka menulis, gagasan apa yang hendak mereka utarakan. Saya memilih untuk bersahabat dan rajin mengikuti postingan mereka yang selalu memancarkan energi positif, mencerahkan media sosial dengan ide-ide baru, serta selalu membuka ruang interaksi dan belajar bersama.

Ketujuh, bersiaplah untuk mengalami kenaikan dan penurunan. Dalam buku Creator. Inc, karya Arief Rahman, blogger merupakan salah satu profesi baru yang banyak diminati di era digital. Aktivitas blogging yang serba mudah, cepat, serta menyediakan begitu banyak peluang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah membuat para blogger berbondong-bondong dalam membangun konten berkualitas demi memantik minat banyak pembaca.

Semakin blog itu ramai pembaca, semakin besar pula penghasilan yang didapatkan. Namun, semuanya tentu melaui proses yang sangat panjang. Saya pribadi percaya bahwa make money from blogging adalah sebuah bisnis yang menjanjikan. Tetapi layaknya bisnis lain di luar sana, dunia blogging juga mengenal kenaikan dan penurunan. Penghasilan dari aktivitas ini juga tidak bisa dipastikan. Yang harus kita lakukan hanyalah menyiapkan mindset positif bahwa dalam dunia blogging, kenaikan dan penurunan adalah hal yang biasa. Sesuatu yang perlu diutamakan adalah tetap komitmen dalam memproduksi konten-konten menarik dan berkualitas.

Kedelapan, disiplin terhadap diri sendiri. Saya selalu percaya bahwa di balik setiap kisah sukses para blogger, selalu tersimpan sikap disiplin yang luar biasa. Kualitas inilah yang membedakan Darren Rowse, Yaro Starak, John Cow, Lisa Stone dan sederet nama beken lain berbeda dengan kebanyakan blogger di luar sana. Disiplin dirilah yang membuat mereka tetap menulis nyaris setiap hari, meskipun tak ada seorangpun yang mengharuskan mereka melakukan hal itu.

Kesembilan, tetap bersabar dan persisten. Banyak blogger yang terlalu tergesa-gesa dan segera ingin meraih kesuksesan saat menekuni aktivitas blogging. Mereka terpukau dengan karir blogger lain yang mentereng. Sayangnya, ketika ekspektasi itu berbading terbalik, mereka terlalu cepat memutuskan untuk berhenti. Padahal, sejatinya setiap blog memiliki potensi dan ukuran keberhasilan yang berbeda-beda.

Saya sendiri sangat senang ketika berbagai tulisan di blog ini dibaca banyak orang. Bagi saya, berbagi pengalaman dengan rekan-rekan blogger sangatlah mengasikkan. Blog mengasah daya-daya kreativitas dan nalar saya untuk terus menyempurna. Melalui interaksi dengan pembaca, saya bisa terus belajar dan menyempurnakan tulisan, menyerap semua energi kritik demi menemukan karakter kuat dalam semua tulisan-tulisan itu. Meskipun tak selalu menuai penghasilan, saya tetap antusias menikmati setiap jengkal proses pembelajaran dalam aktivitas ini.

***

Saya hanya mencatat sembilan. Orang-orang yang berpengalaman dalam dunia blogging tentu punya lebih banyak penjelasan tentang bagaimana seharusnya bersikap sebagai seorang blogger. Kita bisa mencatat, lalu mengembangkan berbagai kiat yang diberikan demi menunjang aktivitas sebagai blogger. Ada hal-hal yang kita sadari, banyak pula hal yang tidak disadari. Namun dengan cara belajar terus-menerus, kita akan sampai pada satu kebenaran, lalu dengan segera mengaplikasikannya.

Dunia ini mempertemukan saya dengan banyak orang dalam berbagai interaksi. Saya merasakan banyak kenikmatan di dunia blog yang yang tak selalu bisa dijumpai di ranah lain. Ibarat taman bermain, dunia blog selalu saja nyaman menjadi tempat untuk tetirah dan melepas segala kepenatan. Tulisan ini pula sengaja dibuat sebagai pegangan pribadi, agar selalu survive dalam dunia yang serba menyenangkan ini.

Mataram, 26 Juli 2017

Thursday, June 8, 2017

Ketika Dikirimi Buku Oleh Fadli Dzon


Foto: sumber.com

Bahagia itu memang tak selalu ditafsirkan dengan keberlimpahan. Bahagia tak selalu dipicu oleh kehidupan yang serba ada. Orang bijak mengatakan, bahagia itu sangatlah sederhana. Yang membuatnya rumit adalah cara pandang dari manusia itu sendiri. Seperti banyak orang lain diluar sana, setiap kali mendapat kiriman buku-buku bagus, saya selalu semeringah. Saya tak sabar untuk segera menyelami lautan kata lalu berbenturan dengan rupa-rupa ilmu didalamnya.

Bagi saya, buku itu ibarat bahan makanan yang setiap saat bisa mengatasi rasa lapar akan pengetahuan. Buku memiliki gizi yang tak bisa ditemukan pada berbagai makanan. Menyimpan banyak buku ibarat menyimpan nutrisi yang penting bagi tubuh. Sebab didalamnya, tersimpan banyak kenangan serta jejak berpikir pada satu masa.

Saya pernah berandai-andai, jika saja surga yang banyak dibicarakan orang adalah gambaran dari tempat yang paling diinginkan, maka saya membayangkan surga sebagai taman bermain yang didalmnya dipenuhi buku-buku bagus dan bisa dibaca setiap saat.

Mungkin hanya sebuah kebetulan jika akhir-akhir ini saya banyak menerima kiriman buku gratis. Beberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman buku dari salah seorang Wakil Ketua DPR RI, Fadzli Dzon. Ia mengirimkan bacaan berupa buku-buku sastra dan sejarah. Serupa menemukan oase di padang pasir yang terik, saya begitu senang. Dahaga untuk terus membaca akan segera teratasi.

Nampaknya, politisi Gerindra yang satu ini sangat paham jika seorang mahasiswa tak selalu leluasa mendapatkan buku-buku bagus sesuai keinginan. Terkadang dalam membeli buku, saya harus rela menunda hasrat untuk membeli ragam keperluan lain. Bahkan ketiia awal-awal kuliah, saya pernah membuat kartu khusus demi akses untuk meminjam buku di perpustakaan daerah.

Sekarang, setelah bergaul dengan banyak teman dari berbagai komunitas literasi, saya tak lagi kesulitan. Komunitas-komunitas ini serupa perpustakaan keliling. Mereka membuka lapak baca hingga memungkinkan semua orang untuk meminjam buku. Di waktu senggang, saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke lapak mereka.

Hidup memang selalu punya sisi menarik untuk diceritakan. Cerita itu tak melulu tentang hiruk pikuk akademik yang membekap pikiran dan ambisi untuk segera diselesaikan. Cerita itu bisa saja tentang rasa suka cita saat mendapat kiriman berupa buku-buku bagus dari seorang petinggi republik ini.

Terlebih lagi, sejumlah bacaan yang dikirim merupakan koleksi perpustakaan pribadi miliknya yakni Fadli Dzon Library. Sebuah perpustakaan yang sengaja didirikan tidak hanya sebagai tempat memajang buku-buku karyanya, tetapi juga mengoleksi sejumlah naskah kuno, tombak dan keris dari berbagai kerajaan Nusantara.

Beberapa Buku Dari Fadli Dzon

Kini, buku-buku itu telah bertengger manis di rak pribadi saya. Sebagian diantaranya telah saya tuntaskan. Sebagian lagi masih saya baca. Yang paling menarik adalah ketika politisi yang kerap berdebat di layar kaca itu, membedah konsep ekonomi sang proklamator bangsa dalam buku berjudul Pemikiran Ekonomi Kerakyatan Mohammad Hatta.

Saya tak menyangka bisa mendapat kiriman buku-buku bagus dari Fadli Dzon. Jangankan darinya, dari seorang Fahri Hamzah pun tidak. Padahal, di beberapa kesempatan, saya kerap bertemu dengan politisi asal Sumbawa yang satu ini. Bahkan bersama sahabat mahasiswa lain, saya pernah mengundang beliau dalam satu acara diskusi.

Ah, hidup memang penuh kejutan yang menyenangkan. Saya jadi teringat ketika bapak-bapak petugas pos mengantarkan kiriman itu ke tempat saya beberapa waktu lalu. Sambil meminta tanda tangan ia bertanya, “Mas Imron kerabat pak Fadli Dzon ya?” Saya hanya tersenyum sembari menjawab, “Iya pak. Saya dengan beliau satu garis keturunan. Kita sama-sama keturunan Nabi Adam.” Bapak itu terbahak-bahak mendengarnya.

Mataram, 08 Juni 2017

Thursday, June 1, 2017

Keep Enjoy in Every Learning Process


Ilustrasi

Let me say happy about Pancasila's day. Pancasila is ideology of our nation. Today, that all of Indonesian's people celebrating Pancasila's day.

Even though many people celebrate it, we can't guarantee they adopted the values of Pancasila itself. But it's not problem. And now, let's implement together by our self to make Indonesian better.

***

Lately, I have spent many time to studied English. According to me, so difficult to study English. Because there are so many rules that make me confused. Like grammar, pronountation, and the way we speak fluent.

But I try to study hard every time, because I wanna go to overseas as soon as possible. May Allah always bless my learning process. Amin.

Thank you for always teached me patiently. Adore you as always.

Best regard, overseas hunter!

Mataram, 1th June, 2017

Thursday, December 1, 2016

Syair Getir di Awal Desember



BELUM BERAKHIR

Aku melihat buih-buih putih berarak
Pergi kemana angin menerpa
Mereka menyangka itu lautan mutiara

Aku mendengar panggilan langit
Hayyaalalfalah, manja mengelus kuping
Suaranya datang dari segala arah
Timur, selatan, barat, hingga utara

Batinku menganga lebar mendadak basah
Air mataku tumpah ruah mewakili saripati hatiku yang lebur
Ada apa ini, ini ada apa
Belum berakhir, berakhir belum

Aku memilih diam
Aku bertanya kepada hati dan pikiranku
Mereka belum meleleh. Masih tak setuju

Aku memilih diam
Aku mendekati penjual terompet yang tuli itu lalu bertanya lagi
Tapi lagi-lagi tidak. Katanya!

Ah, lebih baik aku memesan segelas kopi
Melarutkan hati dalam hembusan angin yang mendamaikan
Memohon agar tak ada ombak besar menitipkan kecemasan pagi ini.

01 Desember 2016. Di atas kapal kecil di tengah laut, dalam perjalanan Sumbawa-Mataram.

Saturday, October 1, 2016

Epos Cinta di Penghujung September




Bermula dari beberapa bulan yang lalu, ketika itu dia sedang mengajar dikelas khusus bahasa inggris, sebuah program bimbingan belajar yang diadakan untuk calon mahasiswa baru di Mataram. Saya yang kebetulan waktu itu juga sempat hadir, tak sengaja mengawasi gayanya dalam menyampaikan materi pelajaran.

Tubuhnya ramping mendekati kurus, kulitnya putih dan bening, matanya coklat kehitaman dan ada beberapa tahi lalat disana, tingginya persis sebahu denganku, perempuan itu sehat dengan kecantikan yang tak perlu riasan. Kemurniannya memancarkan rasa percaya diri yang mempesona, pakaiannya yang sederhana tak pernah mampu membatalkan kecantikannya. Begitu anggun, senantiasa menggunakan kain penutup kepala.

Saya kagum melihatnya, dia nampak sopan dan terdidik. Beberapa menit kemudian dia keluar dari ruangan, menandakan bahwa kelasnya telah habis. Tak mau buang-buang waktu saya lansung mengulurkan tangan untuk berkenalan, diapun menyambut saya dengan ramah. Jujur itu semakin menambah kekaguman saya pada wanita itu. Saya memulai pembicaraan dengan beberapa pertanyaan, sebenarnya beberapa pertanyaan yang saya lontarkan adalah pertanyaan yang sangat mainstream, pahamilah, itu merupakan kelainan saya sejak dulu. Saya selalu gelagapan ketika berhadapan dengan perempuan, tapi sore itu saya tetap memberanikan diri untuk berbicara lebih dalam dengannya.

Saat maghrib menghimpit hari, perlahan kami melangkah menuju bangunan musholla yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat tadi. Ini adalah pengalaman pertama saya menghadap tuhan dengan wanita yang bahkan alamatnya belum saya ketahui.

Meskipun dipisahkan oleh lentera khas bangunan suci, tapi tetap saja itu bukan suatu hal biasa bagi pria keras kepala seperti saya. Pengalaman pertama bertemu sekaligus memanjatkan doa pada satu bangunan yang dirahmati. Sungguh pertemuan yang akan selalu membekas dalam dada saya, teringat dengan kata salah seorang novelis prancis Alponse De Lamartine "Di awal peristiwa-peristiwa besar selalu ada perempuan dan cinta" setidaknya penggalan itu cukup menjadi sanggahan bahwa pertemuan kita saat itu bukanlah sesuatu yang kebetulan.

Dia adalah mahasiswa jurusan bahasa inggris disalah satu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Mataram. Kita memang seangkatan, tapi umur saya lebih tua beberapa minggu darinya. Saya memahami betul keterampilannya di bidang kebahasaan. Dia berbicara bahasa inggris layaknya sedang mengucapkan kalimat dalam bahasa indonesia.

Dia adalah gadis yang cerdas, keikutsertaannya sebagai satu-satunya wanita yang tergabung dalam komunitas polyglot NTB bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh banyak orang. Saya mengakui kapasitasnya dalam bidang bahasa. Sesekali saya juga memperdalam ilmu bahasa padanya melalui chat personal. Ya mumpung tidak dipungut biaya kenapa tidak.

Sekarang setelah berjalan beberapa bulan, saya mulai nyaman menjalani sebuah hubungan. Layaknya pasangan lain, kita selalu melakukan komunikasi. Ketimbang percakapan mesra dari sepasang kekasih, saya lebih nyaman jika menyebutnya sebagai sebuah diskusi. Acapkali kita membahas tentang pelbagai isu kekinian yang terjadi ditengah masyarakat. Cerita-cerita tentang percintaan tak pernah tersentuh sedikitpun dalam tema pembicaraan kami.

Sebelumnya saya tidak pernah menikmati sebuah hubungan yang seperti ini, saya telah menemukan teman diskusi yang praktis, terlebih lagi itu adalah pacar saya sendiri. Satu-satunya yang sering membuat saya jengkel adalah ketika pesan saya dibalas dengan bahasa-bahasa aneh.

Kadang saya menghubunginya di pagi hari. "selamat pagi" ujarku melalui bbm. Beberapa jenak kemudian, muncul bahasa-bahasa aneh yang tak pernah saya pelajari sebelumnya. Seringkali dia menjawab pesan saya menggunakan bahasa Spanyol, Rusia, Germany, bahkan macam-macam.  Jika boleh jujur, kadang saya merasa kesal dengan tingkahnya yang tak biasa. Saya juga kerap ditertawakan sambil ia menjelaskan arti kata-kata itu secara perlahan. Bukankan ini metode pembelajaran yang sangat menyebalkan?

Jujur saja, saya adalah tipikal orang yang jarang mempublikasikan hubungan pribadi kepada siapapun, terlebih melalui media massa. Jikalau tulisan inipun saya buat, itu hanya sekedar untuk mengenang wanita yang telah berhasil membuat diri saya jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia memang tidak secantik kebanyakan perempuan di luar sana, tapi wawasan, kesopanan sikap, serta kesederhanaannya membuat saya bangga.

Di mata saya, setiap manusia memiliki sebuah pengharapan besar terhadap hubungan yang telah mereka bangun, dan hukum itu juga sedang berlaku pada saya. Saya berharap nasib baik akan menimpa kita dikemudian hari. Saya kira tak berlebihan jika saya katakan bahwa saya sedang jatuh cinta setiap hari pada gadis yang sama.

Sebagai mahasiswa, tentu saya tidak ingin jika kisah percintaan saya hanyalah diisi dengan guyonan-guyonan berbau melankolisme yang kebanyakan dianut remaja kita dewasa ini. Saya juga tidak ingin jika cinta membuat saya terseret pada jurang apatisme yang tak berkesudahan. Keinginan saya hanyalah melakukan pembuktikan bahwa bersama orang yang tepat, semuanya bisa berjalan beriringan tanpa ada yang perlu dikorbankan.

Bagi saya, cinta yang ideal itu adalah cinta yang dijalani dengan cara intelektualitas tinggi dan elegan. Saya tidak pernah melihat banyak tokoh besar yang mengumbar kemesraan mereka di media-media sosial, justru yang sering saya amati beberapa public figur yang kelihatan mesra di media sosial, cendrung hubungannya tidak bisa bertahan lama.

Sebenarnya ada begitu banyak pertimbangan sebelum saya menulis tulisan ini. Saya takut kalau-kalau dikatakan sebagai orang yang suka mengumbar hubungan pribadi seperti yang telah saya katakan di atas. Tapi pada dasarnya blog ini memang saya gunakan sebagai tumpahan catatan harian saya. Saya berusaha membangun jejak sejarah saya sendiri melalui tiap-tiap tulisan yang tertera di sini.

Bagi siapapun yang pernah membaca ujaran dari seorang sastrawan besar yang pernah dimiliki bangsa kita, Pramoedya Ananta Toer bahwa "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Pasti akan melakukan hal yang sama.

Jadi wajar-wajar saja ketika seorang mahasiswa tingkat akhir fakultas teknik sedang merajut kisah percintaannya melalui beberapa sulam kalimat sederhana yang sedang anda baca di sini. Bahkan sebuah ekspektasi pribadi kerap muncul, saya berharap suatu saat nanti saya bisa kembali menulis artikel-artikel dengan tema pernikahan, atau semacamnya. Ah, semoga saja.

Mataram, 01 Oktober 2016

Friday, September 23, 2016

September dan Kesabaran

September
September Mengajarkan Banyak Hal
September ini sama sekali tak bersahabat. September adalah momok menakutkan bagi mahasiswa yang tak bisa mengejar target. Aku gusar melihat teman-teman seperjuangan ku mengenakan toga dan baju hitam besar layaknya hakim disebuah persidangan. Sebuah topi berbentuk persegi yang tentu saja tak bisa dipakai oleh mahasiswa abal-abal, mahasiswa pemalas, mahasiswa yang lebih senang mengenakan kaos putih oblong ketimbang almamater kampus, mahasiswa yang lebih senang memegang megaphone ketimbang presentasi didalam kelas.

Topi persegi itu adalah adalah buah manis perjuangan selama 4 tahun. Menandakan babak baru dalam kehidupan mereka telah dimulai, mereka telah sampai kepada titik pembuktian sebagai mahasiswa. Sementara aku! Aku masih mengayun sepedaku. Aku membohongi diriku sendiri jika mengatakan "Aku ini kuat". Aku telah gagal dalam pembuktian 4 tahun ku, aku tak berdaya mendengar keluh kesah orang tuaku, mulutku tertawa melihat mereka memakai toga, tapi hatiku tidak. "Happy Graduation" adalah kata terbaik yang dapat ku tulis disetiap foto yang mereka bagikan di media sosial, sebab aku tak mau mereka mengetahui bahwa aku ini sebenarnya tak sekuat yang mereka bayangkan. Bukan berarti aku penganut Psikoanalisis Sigmund Freud yang kesohor itu, aku juga tidak sedang mempraktekkan mekanisme pertahanan ego, lebih tepatnya aku sedang berusaha mengikuti hukum kausalitas dan keteraturan pola yang aku buat sendiri.

Sebenarnya wisuda tepat waktu tak sepenuhnya menjadi patokan dalam hal kesuksesan, tapi justifikasi sosial yang dibangun oleh masyarakat adalah sesuatu yang kerap membuatku gusar. Bahkan aku pernah mencatat beberapa kata sindiran pada sebuah kertas, kemudian kertas itu aku tempelkan di dinding kamarku, sehingga aku bisa melihatnya setiap hari. Menurutku, itu adalah hal terbaik yang dapat aku lakukan sehingga bisa memotivasiku.

 "Kapan Wisuda". Sampai hari ini, merupakan kalimat terseram yang pernah ku dengar. Dulu ketika Awal - awal kuliah, pertanyaan seperti itu hanyalah pertanyaan simpel yang dapat dilontarkan oleh siapapun. Tapi akhir-akhir ini sepertinya berbeda, seolah-olah pertanyaan seperti ini adalah ejekan, olokan, atau sebagainya. Benar sekali! Itu hanya perasaanku saja, perasaan yang timbul dalam diri mahasiswa fakultas teknik informatika tingkat akhir, yang masih mengayun sepedanya. Bisa dibilang semacam Sosial Phobia.

September
Sepenggal Kalimat Berharga Dari Fred Devito

September ini memang mengajarkan banyak hal, Ada kata SABAR dibalik bulan ini, aku diajarkan untuk tidak hanya mengkonsumsi buku-buku yang berkisah tentang Perubahan - perubahan besar dan perjuangan, tapi juga harus membaca beberapa buku dengan citarasa motivasi tinggi didalamnya. Aku mengakui bahwa aku sedang mengalami fase-fase yang tidak menyenangkan. Aku sedang berada pada titik yang tidak membuatku nyaman sama sekali, sebuah titik yang berhasil membuatku tertawa hanya karena aku melihat orang lain tertawa bukan karena ada sesuatu yang menggelikan. Semoga titik ini segera berlalu.

Mataram, 23 September 2016

Tuesday, September 6, 2016

Terhimpit dan Harus Bangkit


Terhimpit dan harus bangkit

Semua berjalan begitu cepat. Empat tahun bukan waktu yang singkat bagi seorang Introvert untuk berjuang. Kuliah, pulang, nangkring,  diskusi, liburan, semuanya adalah hal rutin yang dilakukan. Namun sekarang merupakan titik balik dari itu semua, dimana seorang Introvert harus berani memaklumi bahwa menjadi wisudawan adalah harga mati untuk membahagiakan dua sosok manusia super didalam hidupnya.

Melihat kawan seperjuangan lebih dulu mengenakan toga kebahagiaan adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang introvert. Hanya saja dia sedang mempraktekkan teori dari salah satu novel is kesukaannya Kubler Rose. Dia berusaha menyembunyikan semua kesedihan dalam hatinya dengan cara menyibukkan diri dengan komputer pribadinya. Sungguh metode pembalikan yang sangat norak bagi seorang mahasiswa teknik tingkat akhir.

Selasa pagi handphone miliknya bergetar. Ibu, seorang yang beberapa hari ini coba diabaikan oleh si introvert ternyata menelpon nya.

"gimana kabarmu nak" kata wanita tua yang suaranya agak membuat si introvert sedikit ketakutan.

"Oh iya saya sehat bu, ibu bagaimana?? Ibu sehat juga kan" Kata si introvert kembali bertanya.

"Ngak nak beberapa hari ini ibu kurang sehat, tapi alhamdulillah sekarang sudah agak baikan". Tak kuasa membendung air mata si introvert pun menangis.

"Nak kamu adalah harapan keluarga satu-satunya, sekarang kakamu sudah kerja walaupun tidak mengenyam bangku kuliah, adikmu masih kecil, ibu sangat berharap kamu menjadi orang yang lebih baik  di kemudian hari nak". Petikan kata terakhir yang membuat luka sangat dalam bagi si introvert.

Suasana hati sudah tidak karuan, apa yang harus kuperbuat. Seakan si introvert telah gagal memberikan kebahagiaan sebagai anak. Seharusnya dia wisuda tepat waktu layaknya teman-teman lain. Ini adalah hal buruk yang semua orang pasti tidak menginginkannya. Tapi bagaimana lagi alurnya terus melaju seperti kereta api jurusan Gambir-Madiun. Dalam hati bertanya-tanya apa yang harus dilakukan.

Selesai sholat kadang hatinya agak tenang dalam beberapa menit, tapi setelah itu pikiran bersalah datang seketika, menghantui, seakan ingin mengatakan sesuatu, bahwa apa yang telah dilakukan si introvert selama empat tahun terakhir adalah salah,  tidak bermanfaat. Terhimpit dalam suasana serba salah, tapi lagi-lagi apa yang harus kuperbuat. Dalam benaknya terus mengatakan hal yang demikian.

Dia harus terus melangkah, continue to step. Dia harus menjadi seorang yang berhasil dalam dunianya sendiri. Begitulah yang dia pikirkan, dulu pendiri perusahaan kalang minyak di Amerika John Rockefeller pernah megalamai fase-fase sulit dalam hidupnya sebelum perusahaan miliknya itu menjadi salah satu perusahaan kalang minyak terbesar dan tersukses di dunia sampai saat ini.

Akio Morita sebelum mengantarkan sony ke puncak kejayaan juga pernah dihantui perasaan yang seakan membuat seluruh hidupnya hancur. Itulah yang menjadi acuan bagi si introvert untuk kembali bangkit. Akan ada titik balik dari semua keterpurukan selama keterpurukan itu ditanggapi dengan sikap positif sehingga menjadi acuan untuk menjadi lebih baik pada fase selanjutnya.

Mataram, 05 September 2016

Wednesday, August 17, 2016

Kambing Hitam dan Kambing Putih


Kambing Hitam dan Putih

Suatu hari, Nasruddin berpapasan dengan seorang gembala beserta kambingnya.

Nasruddin bertanya dengan takjub "Kambing-kambing bapak sehat sekali. Dikasih makan apa pak?

Gembala: "Yang mana dulu nih? Kambing hitam atau yang putih?

Nasruddin: "Mmmm...yang hitam dulu deh."

Gembala: "Kalau yang hitam makannya rumput gajah,"

Nasruddin: "Kalau yang putih?"

Gembala: " Yang putih juga.."

Nasruddin: "Oh gitu, terus kambing-kambing ini kuat jalan berapa kilo, Pak?"

Gembala: "Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang putih?"

Nasruddin: "Yang hitam dulu deh..."

Gembala: "Kalau yang hitam 4 km sehari."

Nasruddin: "Kalau yang putih?"

Gembala: "yang putih juga..."

Nasruddin mulai gondok...

Nasruddin: "kambing ini menghasilkan banyak bulu ga pak pertahunnya?"

Gembala: "Yang mana dulu nih? Yang hita apa yang putih?

Nasrudding: "(Dengan agak kesalnya) Yang hitam dulu!"

Gembala: "Yang hitam banyak. 10 kg/th.."

Nasruddin: "Kalau yang putih...?"

Gembala: "yang putih juga"

Naruddin: "BAPAK KENAPA SIH SELALU NGEBEDAIN KAMBING DUA INI, KALAU JAWABANNYA TERNYATA SAMA?"

Gembala: "Begini pak, soalnya yang hitam itu punya saya.."

Nasruddin: "Oh begitu pak, maaf kalau saya emosi. lalu kalau yang putih?"

Gembala: "Yang putih juga."


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam: "Berilah aku wasiat". Beliau menjawab, "Engkau jangan marah!" Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda: "Engkau jangan marah!" 
(HR al-Bukhari).